Home » » Risalah Qunut Nazilah

Risalah Qunut Nazilah


 Risalah Qunut Nazilah
·         Muqoddimah :
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Sholawat serta salam untuk Rosulullah Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, para shahabat dan orang-orang yang setia mengikuti sunnahnya.
Setelah runtuhnya menara kekuatan Islam pada 13 Maret 1924 M. Ummat Islam di belahan bumi manapun senantiasa menjadi korban, tidak hanya korban pemikiran dengan rusaknya tashowwur ummat terhadap ajaran Diennya sendiri, bahkan korban fisik pun telah banyak terjadi, baik di Palistina, Afghanistan, Kashmir, Chechnya, Moro dan Iraq.
Islam sebagai Dien yang selalu mengayomi para pemeluknya telah memberlakukan, bahwasanya jiwa dibalas dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka pun ada qishos atau balasannya. Maka sudah sepantasnya kalau perlakuan musuh-musuh Islam tersebut dibalas dengan yang setimpal. Namun sebagai penentu dan penguat itu semua adalah hubungan yang kuat antar kaum muslimin dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tidak hanya kekuatan fisik dan senjata yang senantiasa dipersiapkan, do’a kebaikan untuk ummat Islam serta kutukan Allah atas musuh-musuh-Nya dan musuh mereka juga tidak boleh diabaikan. Dan dalam Islam do’a semacam itu disebut dengan “ Qunut Nazilah”.

·         Pengertian Qunut Nazilah :
Secara bahasa, Qunut memiliki banyak arti, diantaranya : Do’a. baik do’a untuk kebaikan, atau do’a untuk kejelekan.[1] Sedang nazilah artinya : Kesulitan yang menimpa suatu kaum.[2]
Dalam madzhab imam Syafi’I dikatakan, bahwasanya jika ada bencana seperti diserang musuh, ditimpa kemarau, wabah penyakit, haus yang berkepanjangan, bahaya lainnya yang nyata menimpa ummat Islam dan lain sebagainya, bagi mereka untuk melaksanakan qunut pada semua sholat wajib. Dan jika tidak ada bencana, maka tidak dilakukan qunut nazilah.[3]

·         Dalil disyari’atkannya Qunut Nazilah :
Sudah menjadi sunnah Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dan amalan para shahabat rodhiyallahu ‘anhum untuk membaca qunut nazilah di saat terjadinya malapetaka yang menimpa ummat Islam. Demikian pendapat Fuqoha-’ ahli hadits (pakar hadits) yang bersumber dari khulafaurrosyidin rhodhiyallahu ‘anhum :[4]
Dari Annas bin Malik rhodhiyallahu ‘anhu, berkata :
بَعَثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ َسلَّمَ سَبْعِيْنَ رَجُلاُ لِحَاجَةٍ يُقَالُ لَهُمْ الْقُرَّاءُ, فَعَرَضَ لَهُمْ حَيَّانٌ مِنْ سُلَيْمٍ, رِعْلٍ وَذَكْوَانٍ عِنْدَ بِئْرِ مَعُونَةَ, فَقَالَ قَوْمٌ : وَاللهِ مَا إِيَّاكُمْ أَرَدْنَا, إِنَّمَا نَحْنُ مُجْتَازُونَ فِي حَاجَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَقَتَلُوهُمْ, فَدَعَا النَّبِيًّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ شَهْرًا فِي صَلاَةِ الْغَدَاةِ, فَذَالِكَ بَدْءُ الْقُنُوتِ, وَمَا كُنَّا نَقْنُتُ.
 “ Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam mengutus 70 orang yang dinamakan dengan Qurro’ (para penghfal Al Qur’an) untuk suatu misi, lalu mereka dihadang oleh orang-orang perkampungan Ri’il dan Dzakwan dari Bani Sulaim di sebuah tempat yang disebut Bi’ru ma’unah. Maka 70 orang yang diutus Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam mengatakan : “Demi Allah ! Kami tidak punya urusan dengan kalian. Tidak lain kami ini hayna menjalankan misi nabi shollalllahu ‘alaihi wasallam, kemudian dibunuhlah 70 orang tersebut. Akhirnya nabi shollallahu ‘alaihi wasallam mendo’akan kejelekan atas perkampungan tadi selama satu bulan di dalam sholat shubuh. Dan itulah awal dibacakannya qunut yang belum pernah kami baca sebelumnya”. (HR. Bukhori dan Muslim, Abu Daud dan An Nasa’I).[5]
·         Tata Cara Pelaksanaan :
Qunut Nazilah dilaksanakan pada saat I’tidal (berdiri dari ruku’) di rokaat terakhir dalam seluruh sholat wajib. Dianjurkan untuk mengeraskan suara dan mengangkat kedua tangan ketika membacanya tanpa mengusap wajah apabila telah selesai membacanya. Demikian yang diterangkan oleh imam An Nawawi rhohimahullah :[6]
Dari Ibnu Abbas rhodhiyallahu ‘anhuma, ia berkata :
قَنَتَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهْرًا مُتَتَابِعًا فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَالصُّبْحِ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ إِذَا قَالَ : سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ, مِنَ الرَّكْعَةِ اْلأَخِيْرَةِ, يَدْعُوا عَلَيْهِمْ عَلَى حَيَّ مِنْ بَنِي سُلَيْمٍ عَلَى رِعْلِ وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ, وَيُؤَمِّنُ مَنْ خَلْفَهُ.
 “ Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan qunut nazilah selama sebulan secara berturut-turut di dalam sholat dhuhur, ‘asyar, maghrib, ‘isya’ dan shubuh. Setiap kali usai mengucapkan : “Sami’allahu liman hamidah” Dari roka’at terakhir. Mendo’akan kejelekan atas mereka. Yaitu perkampungan Ri’il, Dzakwan dan ‘Ushoyyah dari Bani Sulaim. Sedangkan orang-orang dibelakangnya mengucapkan “Amien”. (HR. Ahmad : 1/301-302. hadits no. 1443).[7]

·         Do’a yang dibaca dalam Qunut Nazilah :
Walaupun do’a di dalam qunut nazilah bukan suatu yang ditentukan bacaannya, namun dianjurkan untuk berdo’a dengan do’a-do’a yang ada riwayatnya dan sesuai dengan kondisi dan suasana yang sedang terjadi, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh kholifah Umar ibnul Khottob rhodhiyallahu ‘anhu, ketika memerangi orang-orang nashrani, bahwasanya beliau membaca qunut dengan do’a yang sudah masyhur :[8]
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ
اَللَّهُمَّ الْعَنْ كَفَرَةَ أَهْلَ الْكِتَابِ الَّذِيْنَ يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيْلِكَ وَيُكَذِّبُونَ رُسُلَكَ وَيُقَاتِلُونَ أَوْلِيَائَكَ
 اَللَّهُمَّ خَالِفْ بَيْنَ كَلِمِهِمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِيْ لاَ تَرُدُّهُ عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِيْنَِ
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِيْنُكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ وَنُثْنِيْ عَلَيْكَ وَلاَ نَكْفُرُكَ وَنَخْلَعُ وَنَتْرُكُ مَنْ يَفْجُرُكَ
اَللَّهُمَّ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَلَكَ نُصَلِّى وَنَسْجُدُ وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ. نَرْجُو رَحْمَتَكَ وَنَخْشَى عَذَابَكَ إِنَّ عَذَابَكَ بِالْكُفَّارِ مُلْحِقٌ
Allahummaghfirlana wa lilmukminiina walmukminaat wal muslimiina wal muslimaat wa allif baina quluubihim wa ashlih dzata bainihim wanshurhum ‘ala ‘aduwwika wa’aduwwihim
Allahummal’an kafarota ahlil kitab alladzina yashudduna ‘an sabiilik wayukaddzibuuna rusulak wayuqootiluuna auliyaa-ak
Allahumma kholif baina kalimihim wazalzil aqdaamahum wa anzil bihim baksakalladzi laa tarudduhu ‘anil qoumilmujrimiin
Bismillahirrohmanirrohim
Allahumma innaa nasta’iinuka wanashtaghfiruka wanutsni ‘alaikalkhoiro walaa nakfuruka wanakhla’u wanatruku man yafjuruka
Allahumma iyyaaka na’budu walaka nusholli wanasjudu wailaika nas’a wanahfidu, narju rohmataka wanakhsya ‘adzabak inna ‘adzabaka bilkuffari mulhiq

“  Ya Allah ! Ampunilah kami, kaum mukminin dan mukminat, muslimin dan muslimat. Persatukanlah hati mereka. Perbaikilah hubungan di antara mereka dan menangkanlah mereka atas musuh-Mu dan musuh mereka”.
“Ya Allah ! Laknatlah orang-orang kafir ahli kitab (yahudi dan nashrani) yang senantiasa menghalangi jalan-Mu, mendustakan rosul-rosul-Mu, dan memerangi wali-wali-Mu”.
Ya Allah ! Cerai beraikanlah persatuan dan kesatuan mereka. Goyahkanlah langkah-langkah mereka, dan turunkanlah atas mereka siksa-Mu yang tidak akan Engkau jauhkan dari kaum yang berbuat jahat”.
Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Ya Allah ! Sesungguhnya hanya kepada Engkau kami mohon pertolognan, meminta ampunan, dan senantiasa memuji-Mu atas kebaikan yang diberikan. Kami tidak kufur kepada-Mu, dan kami berlepas diri serta meninggalkan orang-orang yang durhaka kepada-Mu”.
Ya Allah ! Hanya kepada Engkau kami beribadah, hanya karena Engkau kami sholat dan sujud, hanya kepada Engkau pula kami berusaha dan berkhidmat. Kami sangat mengharap rahmat-Mu dan kami pun takut akan siksa-Mu, karena sesungguhnya siksa-Mu itu tidak akan pernah berkurang atas orang-orang kafir”.[9]

ü    Waktu qunut nazilah tidak terbatas

          Waktu pelaksanakan qunut nazilah sebagai disebutkan para ulama adalah satu bulan berturut-turut. Diantara para ulama itu adalah ibnu Qudamah dalam kitabnya Al-Mughni menyebutkan bahwasanya Rosululloh melakukan qunut nazilah selama satu bulan untuk mendo’akan orang-orang arab kemudian meninggalkan qunut tersebut. ( Al Mughni 2/ 587 ) Begitu juga disebutkan dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzabah juz 3 hal 465, perkataan ishak ( Rosululloh melakukan qunut nazilah selama sebulan beliau berhujjah dengan hadits dari Anas ra.

أن النبي قنت شهرا بعد الركوع يدعو على أحياء من العرب ثم تركه ( روه البخارى و مسلم )

Artinya : Sesungguhnya Nabi melakukan qunut selama sebulan setelah ruku’ untuk mendo’akan orang-orang arab yang masih hidup lalu meninggalkannya. ( HR. Al Bukhari dan Muslim ) ( Hadits Anas yang dileluarkan oleh Al Bukhari dalam kitab Al Maghazi no hadits 4089 dan kitab Jihad no hadits 3064 dan 4090 )
            Dan didalam hadits shahih Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ra :
أن النبي قنت بعد الركوع في صلاته شهرا لفلان و فلان ثم ترك الدعاء لهم
Artinya : Sesungguhnya Nabi melakukan qunut setelah ruku’ dalam shalatnya selama sebulan, mendo’akan si fulan si fulan lalu meninggalkan do’a tersebut.( al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab : 3/466 )
            Begitu juga Imam Ahmad menyebutkan dari Ibnu Abbas ra :
قنت رسول الله شهرا متتابعا في الظهر و العصر و المغرب و العشاء و الصبح في دبر كل صلاة إذا قال : سمع الله لمن حمده من الركعة الأخرة, يدعو على حي من بني سليم, على رعل و ذكوان و عصية, و يؤمن من خلفه. ( رواه أحمد و أبو داود )

Artinya : Rasulullah melakukan qunut selama sebulan berturut-turut dalam shalat dhuhur, ashar, maghrib, isya’, dan shubuh pada setiap penghujung shalat, apabila beliau berkata :سمع الله لمن حمده  pada rakaat terakhir, mendoakan bani Salim, Riil, Dakwan, dan Ushayya dan diamini oleh orang-orang yang berada dibelakang beliau. ( HR. Abu Daud : 1443, dalam masalah shalat bab qunut disetiap shalat dan  HR. Ahmad dalam al-musnad : 1/301 dan isnadnya hasan, dishahihkan oleh Al Hakim dalm al-Mustadrak : 1/225 dan disepakati oleh Imam Adz Dzahabi )
            Dalam kitab sunan Abi Daud hadits no 1445, disebutkan :
حدثنا أبو الوليد الطيالسى حدثنا حماد بن سلمة عن أنس بن سيرين عن أنس ين مالك أن النبى قنت شهرا ثم تركه
Artinya : Abu al-Walid ath-Thayalisi menceritakan pada kami, Hammad bin Slamah menceritakan pada kami dari Anas bin Sirin dari Anas bin Malik bahwasannya Nabi melakukan qunut selama sebulan lalu meninggalkannya.
            Dan kitika Lajnah Daimah lil Buhuts al-Ilmiyyah wa al-ifta ditanya tentang permasalahan qunut, mereka menjawab : “Telah ditetapkan bahwasannya Nabi dahulu melakukan qunut nazilah ( ketika turun bencana ) beliau mendo’akan kehancuran bagi orang-orang kuffar yang melampaui batas dan mendo’akan keselamatan untuk kaum muslimin yang lemah dari makar orang-orang kafir, kemudian beliau meninggalkannya. Dan tidak mengkhususkan atu shalat fardhu saja dari shalat fardhu yang lain. Yang menunjukkkan hal itu adalah hadits yang diriwayatkan Anas ra bahwasannya Nabi melakukan qunut selama sebulan kemudian meninggalkannya.(HR. Ahmad, Muslim, Nasai, dan Ibnu Majah ) dan dalam lafadz yang lain :
قنت شهرا حسن قتل القراء فيما رأيت حزن حزنا قط أشد منه ( أخرجه البخارى : 7/168 )
Artinya : Nabi melakukan qunut selam sebulan ketika terbunuhnya qurra maka tidaklah saya suatu kesedihan yang sangat dibanding kesedihan yang lain. ( Dikeluarkan Al Bukhari :7/168 ) ( Fatawa al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts wa al-Ifta yang dikumpulkan oleh Syech Ahmad bin Abdil Rozzak ad-Duwalisyi :7/42, bab shalat.
           Demikian perkataan ulama tentang lamanya qunut yaitu selama sebulan.

Ibnu Timiyah menyebutkan bahwa diantara pendapat ulama bahwasanya Nabi Muhammad melakukan qunut disebabkan turunnya bencana lalu beliau meninggalkannya sebab turunnya bencana itu hilang. Maka qunut itu disunahkan ketika berlangsungnya bencana. Dan itulah perkataan fuqoha’ ahlu hadits yang ma’tsur dari khulafa al Rosyidin. ( Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah : 23/ 108 )

Hal ini menunjukkan bahwa lamanya qunut itu sebagaimana lamanya bencana

Begitu juga Ibnu Qoyyim menyebutkan bahwasanya tidak ada keraguan lagi Rosululloh melakukan qunut lalu meninggalkannya hal ini adalah sunnah, dan sesu\ngguhnya Rosululloh telah melakukannya, hal ini sebagai kanter ahlu Kufah Yang mereka menghukm\kumi makruh qunut nazilah dalam sholat shubuh atau lainnya.Dan pentahqiq buku bakiau menyebutkan dalam cacatan kakinya bahwasanya ada sebuah pendapat sebagaimana al Alamah al-Halabib berkata dalam kitab syarhul kabir 420, makla hal ini disunahkan yakni disyareatkannya qunut nazilah yang dikerjakan secara terus menerus ( tidak terbatas waktunya ) hal itu menurut madzab Hanni ( Al hanafiayah ). Zadul Maad 1/ 265 )

Kesimpulan;

Bahwasanya dalam qunut nazilah ada dua pendapat

1.      Qunut nazilah dilakukan selama sebulan sebagaimana yang telah disebutkan diatas.

2. Qunut nazilah boleh dilaksanakan terus menerus sebagaimana pendapat yang disebutkan dalam kitab zaadul Maad. Dan juga illah yang disebutkan oleh para ulama dalam kitab Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah 23/ 108 )

  
“ Hancurnya ka’bah dengan berjatuhan batu-batunya itu lebih ringan di sisi Allah dari terbunuhnya seorang muslim “.
(Al Hadits)




[1] . Al Majmu’ Syarh Al Muhaddzab : 3/464
[2] . Lisanul ‘Arob : 11/659
[3] . Sharh Shohih Muslim : 5/176
[4] . Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah : 23/108
[5] . Jami’ul Ushul Fie ahadits ar Rosul : 5/384
[6] . Syarh shohih Muslim : 5/176
[7] . Hadits ini dinyatakan shohih oleh imam Al Hakim di dalam Al Mustadrok : 1/225. dan disepakati oleh imam Ad Dzahabi. Lihat catatan kaki Zadul Ma’ad : 1/264
[8] . Lihat Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah : 23/108.115
[9] . Riwayat imam Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubro : 2/210-211, dan dinyatakan shohih olehnya. Lihat catatan kaki Syarkh As Sunnah : 3/131

Diterbitkan Oleh : Al Masjidiy Jurnal News Network

Al Masjidiy Murupakan kumpulan dari tulisan-tulisan yang ada dalam beberapa buletin dan artikel ilmiah, soalnya admin pernah menjadi pemred beberapa buletin di Kota Metro Lampung dan Kota Bekasi. Saat ini admin Fokus pada pengembangan media online. Admin juga menerima tulisan dari pembaca melalui email: almasjidiy@gmail.com

Join Me On: Facebook | Twitter | Google Plus :: Terima Kasih Telah Membaca Artikel Ini ::

0 comments:

Post a Comment

Opini Terbaru